02 Apr 2026
Administrator
5 menit membaca

Pengujian Kolokasi 2 Lokasi SPKU (Taman Sungai Kendal dan JGC Rorotan)

Pengujian Kolokasi 2 Lokasi SPKU (Taman Sungai Kendal dan JGC Rorotan)

Kebauan lingkungan (odor nuisance) merupakan salah satu isu kualitas udara yang memiliki karakteristik kompleks karena tidak hanya berkaitan dengan konsentrasi kimia, tetapi juga persepsi manusia. Dampaknya mencakup gangguan kenyamanan, stres psikologis, serta keluhan kesehatan non-spesifik seperti sakit kepala, mual, dan gangguan tidur. Dalam banyak kasus, keluhan masyarakat lebih dipicu oleh episode kebauan intens yang bersifat temporer, dibandingkan paparan rata-rata jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan pemantauan kebauan memerlukan integrasi antara data instrumental, analisis episode, serta pemahaman terhadap sumber emisi.

Untuk mendukung pemantauan tersebut, digunakan sistem SPKU berbasis sensor yang mampu merekam konsentrasi senyawa berbau secara kontinu. Namun, mengingat keterbatasan sensor dalam hal sensitivitas stabilitas, dan potensi bias, dilakukan uji kolokasi dengan metode referensi (LHP) guna memastikan keandalan data. Uji kolokasi merupakan pendekatan dimana instrumen sensor dan metode referensi ditempatkan berdampingan dalam kondisi yang sama untuk mengevaluasi kesesuaian hasil pengukuran serta membangun model koreksi. Melalui proses ini, data SPKU dapat dikalibrasi sehingga lebih representatif terhadap kondisi aktual di lapangan.

Dalam studi ini, pengujian kolokasi dilakukan pada dua lokasi, yaitu SPKU Taman Sungai Kendal dan SPKU JGC Shinano, dengan desain yang secara eksplisit mempertimbangkan pengaruh operasional sumber potensial, yaitu fasilitas RDF Rorotan. Secara spasial, RDF Rorotan terletak di sebelah utara SPKU JGC Shinano dan di sebelah selatan SPKU Taman Sungai Kendal. Kedekatan ini menjadikan RDF Plant sebagai salah satu kandidat sumber kebauan yang perlu dievaluasi secara sistematis. 

Untuk menangkap pengaruh aktivitas tersebut, pengujian kolokasi dibagi menjadi dua kondisi  operasional:

• 20 kali pengujian saat RDF tidak beroperasi, sebagai baseline kondisi lingkungan,

• 30 kali pengujian saat RDF beroperasi, untuk mengidentifikasi potensi kontribusi tambahan dari aktivitas RDF. 

Pendekatan ini memungkinkan dilakukan analisis komparatif antara kondisi latar belakang dan kondisi operasional, sehingga interpretasi sumber kebauan menjadi lebih kuat secara kausal. Parameter yang dianalisis dalam pengujian meliputi senyawa sulfur volatil seperti hidrogen sulfida (H2S), metil sulfida atau dimetil sulfida (DMS), dan metil merkaptan (MM), yang secara ilmiah dikenal sebagai komponen utama kebauan dari dekomposisi organik. Selain itu, dianalisis pula amoniak (NH3) sebagai representasi senyawa nitrogen volatil, serta stirena sebagai indikator kemungkinan kontribusi sumber industri atau material berbasis resin.

Untuk mengintegrasikan berbagai parameter tersebut, digunakan Odor Index (OI) sebagai indikator komposit yang merepresentasikan kebauan campuran berdasarkan kontribusi relatif masing-masing senyawa terhadap kondisi episode tinggi (persentil 95 atau P95). 

Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakter kebauan pada kedua lokasi memiliki perbedaan yang signifikan. Pada SPKU JGC Shinano, pola data menunjukkan konsistensi yang kuat antara parameter sulfur volatil, khususnya DMS dan MM, yang mengindikasikan adanya sumber dominan yang bersifat homogen. Pola ini selaras dengan mekanisme biogeokimia pada lingkungan pesisir, di mana dekomposisi bahan organik dalam kondisi anaerob menghasilkan senyawa sulfur volatil. Dalam kondisi kekurangan oksigen, bakteri pereduksi sulfat menghasilkan H2S yang selanjutnya dapat bertransformasi menjadi DMS dan merkaptan, membentuk karakter bau khas yang sering diasosiasikan dengan lingkungan pesisir atau perairan stagnan.

Namun demikian, dengan adanya fasilitas RDF Rorotan di bagian utara lokasi, interpretasi sumber kebauan tidak dapat hanya mengandalkan satu mekanisme. Aktivitas RDF, yang melibatkan pengolahan sampah menjadi bahan bakar, berpotensi menghasilkan emisi kebauan melalui beberapa jalur, seperti:

• proses degradasi bahan organik dalam sampah,

• emisi dari penyimpanan dan penanganan material,

• serta potensi pelepasan senyawa volatil selama proses mekanis maupun termal.

Dengan desain pengujian yang membandingkan kondisi RDF aktif dan tidak aktif, indikasi kontribusi RDF dapat diidentifikasi melalui perubahan pola konsentrasi, peningkatan frekuensi episode kebauan, atau pergeseran hubungan antar-parameter, khususnya pada saat arah angin mengarah dari sektor utara menuju lokasi SPKU.

Sementara itu, pada SPKU Taman Sungai Kendal, karakter kebauan menunjukkan variabilitas yang lebih tinggi dan pola yang kurang konsisten antar-parameter. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber kebauan di lokasi tersebut bersifat lebih kompleks dan kemungkinan berasal dari kombinasi berbagai aktivitas, termasuk limbah domestik, sistem drainase, serta potensi kontribusi dari RDF Rorotan yang terletak di arah selatan. Dalam kondisi ini, identifikasi sumber memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, dengan mempertimbangkan interaksi antara berbagai sumber dan kondisi meteorologi.

Analisis meteorologi pada kedua lokasi memperkuat temuan bahwa kondisi atmosfer memainkan peran penting dalam menentukan intensitas kebauan yang terukur. Episode kebauan cenderung terjadi pada kondisi kecepatan angin rendah (< 2 m/detik), di mana dispersi atmosfer terbatas dan memungkinkan akumulasi lokal senyawa berbau. Selain itu, perubahan arah angin dalam skala waktu singkat dapat menyebabkan penyebaran (plume) polutan bergerak secara intermiten, sehingga menghasilkan lonjakan konsentrasi sesaat yang sangat relevan dengan keluhan masyarakat. Dalam konteks ini, integrasi antara data kimia, Odor Index, dan analisis arah angin menjadi kunci dalam melakukan inferensi sumber.

Penggunaan Odor Index dalam studi ini terbukti memberikan nilai tambah yang signifikan, karena mampu mengintegrasikan berbagai parameter menjadi satu indikator yang lebih representatif terhadap persepsi bau. Berbeda dengan pendekatan berbasis satu parameter, Odor Index mencerminkan sifat kebauan yang bersifat asosiatif dan multiparameter, sehingga lebih sesuai untuk menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Nilai OI yang tinggi pada periode tertentu dapat diinterpretasikan sebagai episode kebauan yang berpotensi menimbulkan gangguan, terutama jika terjadi secara berulang.

Secara keseluruhan, pengujian kolokasi pada SPKU Taman Sungai Kendal dan JGC Shinano menunjukkan bahwa sistem pemantauan berbasis sensor memiliki potensi yang kuat untuk digunakan sebagai alat deteksi dan analisis kebauan lingkungan, terutama dalam mengidentifikasi episode kebauan yang relevan dengan keluhan masyarakat. Dengan desain pengujian yang mempertimbangkan kondisi operasional RDF Rorotan, studi ini juga memberikan dasar analitis yang lebih kuat untuk mengevaluasi kontribusi sumber eksternal terhadap dinamika kebauan. Integrasi antara data sensor yang telah dikoreksi, Odor Index, serta analisis meteorologi memungkinkan pendekatan yang lebih komprehensif, berbasis data, dan relevan secara operasional dalam pengelolaan kebauan lingkungan.

Artikel Terkait

02 Apr 2026

Implementasi Sistem Pemantau Kebauan Ambien di 8 Lokasi Sekitar RDF Rorotan

&nbsp; Pendahuluan Kebauan (odor nuisance) merupakan salah satu bentuk gangguan lingkungan yang...

Baca Selengkapnya

Pantau Kualitas Udara Real-time

Akses data monitoring terbaru dari stasiun pemantauan kami